Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Luka Selalu Meninggalkan Jejak Sesamar Apapun

Apa yang membuat seseorang berubah? Adalah satu dari dua hal ini:  belajar banyak atau trauma yang dalam.  Belajar, tak diragukan lagi, membuat seseorang menimba banyak pengetahuan yang darinya membuat dia menjadi lebih pintar  (berubah).  Akan halnya trauma, saya kira, adalah jalan tersingkat untuk berubah.  Terluka dalam, dapat membuat seseorang menjadi bukan dirinya lagi hanya dalam hitungan bulan, bahkan mungkin hari.  Luka, seperti halnya menangis yang tidak selalu dengan air mata, kadang kala tak disertai darah. Luka seperti ini sangat traumatis dan  memberi efek psikologis yang dahsyat.  Sebab iya terpendam jauh di dalam hati, seperti air yang terperangkap di telinga, sangat menggangu tapi tak kelihatan oleh orang lain. Kali ini saya akan menuliskan tentang luka yang dalam yang membuat seseorang berubah 180 derajat.  Ini ceritanya. Ketika saya di Sukoharjo beberapa hari yang lalu karena ada urusan kerjaan , entah kenapa, tiba-tiba teringat seorang kawan lama yang keb

Tere Liye "Sepotong Hati Yang Baru"

Aku menghela nafas perlahan, bertanya perlahan, berusaha memutus suasana canggung   lima menit terakhir, “Apa kau baik-baik saja?” Alysa mengangkat kepalanya, mengangguk. “Apa kau baik-baik saja,” Alysa balik bertanya pelan. Aku tertawa getir. Menggeleng. Diam sejenak. Sungguh hatiku tidak baik-baik saja. Bulan purnama menggantung di angkasa. Senyap? Sebenarnya tidak juga. Suara debur ombak menghantam cadas di bawah sana terdengar berirama. Tetapi pembicaraan ini membuat sepi banyak hal. Hatiku. Mungkin juga hati Alysa. Rumah makan yang terletak   persis di jurang pantai eksotis ini tidak ramai. Hanya terlihat satu dua pengunjung, membawa keluarga mereka makan malam. Bukan musim liburan, jadi sepi. Kami duduk berhadapan di meja paling pinggir. Menyimak selimut gelap lautan di kejauhan. “Maafkan aku.” Alysa menggigit bibir. Tertunduk lagi. Aku menatap wajahnya lamat-lamat. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah berlalu. Tertinggal jauh di belakang.” Aku me

Nama Adalah Doa Bagian 2

Pertama-tama dan terutama saya harus minta maaf telah dengan sengaja tidak segera menulis bagian kedua dari tulisan bersambung mengenai Nama-nama Khas Indonesia. Sejujurnya bukan karena tidak punya waktu,  melainkan sebaliknya.  Waktu yang tersedia begitu berlimpah, tapi otak saya tak mau dipaksa berpikir yang agak serius.  Entah kenapa, tapi memang ada saat dalam kehidupan kita, kita hanya mau leyeh-leyeh saja sepanjang hari. Baiklah kita sambung diskusi kita mengenai nama.  Setelah saya surfing sana sini di dumay baik yang saya dapat dari artikel blogger, wikipedia dan tentu saja sedikit bantuan dari mbah google. Dan tahukah Anda bahwa saat ini penamaan bayi telah berubah menjadi industri. Coba perhatikan begitu banyak buku ditulis, begitu banyak portal dibuat, dan begitu banyak konsultan tentang nama bayi muncul. Semua itu memanfaatkan satu hal: otoritas tanpa tandingan orangtua memberi nama kepada bayinya yang terkadang aneh-aneh.  Banyak contoh orangtua memberikan nama ke